Vankasiruta – Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), berhasil menurunkan angka Stunting diangka 7 Persen di tahun 2023. Sebelumnya, di tahun 2021, Stunting di Halsel diangka 13 persen.
Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat (Kesmas), Dinas Kesehatan Halsel, Astuti,SKM saat diwawancarai dituangkan kerjanya, Senin (29/05/23) mengatakan, bahwa berdasarkan data dari Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (E-PPGBM) angka stunting di Halsel Turun dari 13 persen di tahun 2021 menjadi 7 persen (1100 kasus stunting), tahun ini.
“7 persen itu 1.100 kasus stunting dari jumlah anak yang menjadi sasaran yakni 19.135 anak di Halsel,” ucap Astuti,SKM.
Astuti mengaku, pihaknya telah melakukan intervensi kepada 1100 kasus Stunting dengan memberi makanan tambahan untuk anak Stunting dan obat-obatan untuk Ibu Hamil dan remaja Perempuan.
“Ada dua upaya Intervensi yakni intervensi Spesifik yakni memberi makanan tambahan kepada anak dan tablet FE atau tablet penambah darah untuk ibu hamil dan remaja perempuan. Sedangkan intervensi Sensitif yakni masalah sanitasi, air bersih, jamban sehat, pola asuh dan apakah dia termasuk keluarga miskin atau tidak,” tutur Astuti.
“Kalau Kita di Dinkes hanya Intervensi Spesifik saja kalau untuk intervensi Sensitif itu ada di badan Dinas lainnya,” ungkapnya.
Astuti menjelaskan, Penyebab stunting itu ada Penyebab secara langsung yaitu masalah gizi anak dan Tidak Langsung, yakni masalah Sanitasi seperti faktor keluarga tidak memiliki jamban sehat, air bersih yang cukup, kemudian pola asuh anak.
“Ibu hamil yang mengalami Anemia atau kurang darah juga berpotensi melahirkan anak Stunting,” imbuhnya.
Menurut Kabid berparas cantik ini, selain memberikan makanan tambahan kepada anak yang menderita stunting, pihaknya terus melakukan intervensi stunting dengan melakukan kontrol timbangan atau berat badan mereka melalui Puskesmas.
Ia merasa optimis dengan adanya Intervensi ini, kasus stunting di Halsel bisa menurun ditiap tahunnya.
