Oleh: Kadri La Etje, Asisten I Setda Provinsi Maluku Utara
Vankasiruta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diluncurkan Presiden RI adalah program mulia yang harus kita dukung bersama. Tidak hanya karena ini program negara, tetapi karena program ini menyentuh langsung kebutuhan dasar anak-anak bangsa. Dimana kesehatan dan gizi dua hal yang menjadi fondasi untuk mencetak generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.
Menyoroti masalah distribusi MBG di MTs Negeri I Kota Ternate baru-baru ini, yang dihentikan akibat ditemukannya ulat hidup di salah satu porsi makanan, sebagai Asisten I Setda Provinsi Maluku Utara yang memiliki latar belakang pendidikan di bidang gizi, dengan pemahaman terhadap sistem Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP) pangan, serta pernah menulis skripsi cum laude di Fakultas Pertanian Unpatti tentang sanitasi dan higienis pangan, saya memandang bahwa keberhasilan program MBG tidak cukup hanya dari sisi distribusi. Esensinya adalah kerja sama yang solid antara pemberi dan penerima dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga satuan pendidikan dan masyarakat.
Satu hal yang sangat penting namun sering diabaikan adalah waktu konsumsi makanan. Begitu makanan MBG sampai di sekolah dan lolos observasi visual (organoleptik)—yakni tidak ada bau aneh, warna berubah, atau tekstur yang mencurigakan—maka makanan itu harus segera dikonsumsi. Jangan ditunda-tunda. Yang bisa ditunda itu kegiatan mengajar, bukan makanannya.
Makanan yang sudah dimasak sangat rentan terhadap kontaminasi mikrobiologis jika tidak segera dikonsumsi. Berdasarkan prinsip sanitasi dan higienitas, makanan matang sebaiknya tidak disimpan lebih dari 7 jam, apalagi jika disimpan di ruangan tanpa pendingin atau yang tidak memenuhi standar kebersihan. Dalam kondisi seperti itu, peluang tumbuhnya bakteri indikator seperti Coliform dan E. coli meningkat drastis. Inilah yang bisa menyebabkan anak-anak mengalami gejala seperti muntah dan sakit perut.
Jangan sampai program mulia ini justru menjadi bumerang hanya karena kelalaian dalam aspek penanganan makanan. Maka, prinsip utama dalam pelaksanaan MBG harus kita pegang teguh, yakni tepat dalam pengolahan, cermat dalam penanganan, dan cepat dalam konsumsi.
Makanan bergizi gratis bukan sekadar intervensi untuk mencegah stunting. Lebih dari itu, ini adalah investasi besar untuk meningkatkan kecerdasan anak-anak Indonesia wabil khusus generasi provinsi Maluku Utara. Gizi yang baik adalah pondasi IQ yang tinggi. Kalau kita ingin bersaing di masa depan, generasi kita harus sehat, cerdas, dan kuat sejak dini.
Jadi, sekali lagi saya tekankan, ketika makanan MBG sudah sampai di sekolah, segera konsumsi. Jangan ditunda! Jika perlu, tunda dulu kegiatan belajar selama 15 menit. Tapi jangan tunda makannya. Karena setiap menit yang lewat, mutu makanan bisa menurun, dan gizi bisa hilang.
MBG bukan hanya tentang makan gratis, tapi tentang masa depan anak-anak kita. Mari kawal bersama dengan penuh tanggung jawab.
Indonesia Emas 2045 dimulai dari makanan bergizi yang dikonsumsi sekarang, bukan nanti.