Cahaya yang Tetap Jatuh di Barat: Catatan Senja dari Beton Reklamasi Pantai Labuha

Suasana senja dipantai labuha, sabtu (28/06/25). (Foto: Lee)

Vankasiruta – Langit barat membuka jendela cahaya terakhirnya sore itu, . Laut di Labuha membentang tenang seakan menunggu disentuh puisi. Tak ada kapal, tak ada perahu. Hanya bisu yang mengambang, sesekali desiran angin pelan terasa oleh penikmat senja sore itu, sabat (28/06/25).

Di atas beton yang menggantikan pasir dan bakau, sekelompok warga duduk diam menikmati keindahan senja. Tak ada tawa keras, tak pula percakapan panjang. Yang terdengar hanya angin sore menyisir wajah, dan sesekali terdengar suara kendaraan yang lewat.

Bacaan Lainnya

Beton itu memang kokoh, tapi juga dingin. Ia menindih cerita pesisir: pasir hangat yang pernah memeluk kaki kecil, akar bakau yang pernah mencatat musim pasang dan surut. Kini, semua itu telah dikubur oleh jejak pembangunan yang mengeras dalam bentuk semen.

Namun ada yang tak bisa dikubur: cahaya sore yang setia pulang ke barat. Ia jatuh perlahan ke permukaan laut, menebarkan jingga seperti sulaman tangan Tuhan. Keindahan ini tetap gratis. Tetap datang. Meski kini ia ditonton dari atas cor beton, bukan dari pasir yang dulu lunak dan penuh jejak.

Mereka yang duduk di sana tahu, diam-diam, bahwa ada yang hilang. Tapi sore hari memberi jeda, sejenak ruang untuk mengingat: bahwa sebelum proyek datang, pantai ini pernah hidup. Dan kini, dalam sepinya senja, ia hidup lagi. Meski hanya dalam cahaya yang jatuh, dan dalam ingatan yang belum sepenuhnya padam.

Pos terkait