Vankasiruta – Minggu sore itu, 5 November 2023, langit Bacan tampak cerah. Di Stadion Gelora Halsel, riuh sorak penonton memecah udara, menyambut laga pembuka turnamen sepak bola Bupati Cup 2023. Di tengah lapangan, Usman Sidik, Bupati Halmahera Selatan, mengenakan seragam kesebelasan dan tersenyum lebar. Ia turun bermain, bukan sekadar membuka acara, tapi juga mengawal semangat sportivitas yang selalu ia gaungkan.
Namun, di babak kedua laga pembuka turnamen Bupati Cup, antara Wartawan dan Pemda langit cerah itu berubah muram.
“Dia sempat pegang dadanya, lalu angkat tangan seperti minta tolong,” ujar seorang wartawan yang berada di lapangan. Usman kemudian tumbang. Panitia dan petugas medis berlarian. Ia dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tak tertolong. Usman Sidik wafat, di tengah pertandingan yang ia mulai sendiri, bersama tim jurnalis Halmahera Selatan. Mereka yang dulunya rekan seprofesinya.
Tangis pecah. Dari stadion hingga pelosok desa, kabar duka itu menggetarkan hati warga. Halmahera Selatan kehilangan pemimpinnya. Bupati ketiga dalam sejarah kabupaten ini, meninggal di tengah masa jabatannya, belum sempat menuntaskan amanah yang ia emban sejak dilantik tahun 2021.
Usman bukan bupati biasa. Latar belakangnya sebagai wartawan membentuknya menjadi sosok yang tak biasa di panggung politik lokal. Gaya bicaranya ceplas-ceplos, keras khas Maluku Utara, tapi di balik suaranya yang lantang, ada hati yang tulus. Ia dikenal sebagai pemimpin yang turun langsung ke desa-desa, menembus medan sulit demi menyapa warganya, menyimak sendiri keluh mereka.
“Bupati yang tidak takut bentrok dengan para pejabat di pemerintah pusat,” ujar seorang pejabat lokal mengenangnya.
Pernah dalam satu forum, Usman dengan suara lantang menuding pemerintah pusat “secara tidak langsung membunuh warga Obi.” Sebab, meski tanah mereka digali tambang, masyarakat hanya mendapat sisa. Kerusakan lingkungan dibiarkan. Lahan warga diserobot. Dan para pejabat pusat, menurutnya, terkesan memilih tutup mata.
Keberanian Usman bukan basa-basi. Ia nekat membangun jalan hotmix di Pulau Obi, walau secara administratif itu jalan provinsi. Ia tahu melanggar aturan. Tapi ia juga tahu, kalau tak ada yang nekat, Pulau Obi akan terus dibiarkan dalam kesunyian dan ketidakadilan. “Masa pulau yang hasil tambangnya menyumbang triliunan rupiah ke negara, jalannya saja seperti kubangan?” ucapnya dalam satu wawancara.
Keberpihakannya pada rakyat menjadikannya disegani. Tapi juga tak jarang, dibenci oleh kalangan elit dan korporasi tambang yang merasa terusik. “Saya bukan anti-investasi,” katanya suatu kali. “Tapi saya anti penindasan terhadap rakyat saya sendiri.”
Usman adalah pemimpin dengan wajah ganda. Dikenal keras di meja rapat, hangat di tengah warga. Ia dikenal sering berbicara keras ke pejabat, tetapi juga sering terlihat membantu warga dengan tangan terbuka. Ia melawan dengan kata-kata, tetapi merangkul dengan tindakan.
Banyak yang mengenangnya bukan karena proyek-proyek fisik yang dibangunnya, melainkan karena keteguhan sikap. Karena ia hadir, bukan hanya terlihat. Karena ia mendengar, bukan sekadar mendengar.
Kini, semua itu tinggal kenangan. Usman Sidik pergi terlalu cepat. Tapi jejaknya, suara lantangnya di ruang-ruang kekuasaan, dan keberpihakannya yang konsisten, tak mudah hilang dari ingatan.
Di halaman rumah duka, seorang warga berkata pelan, “Dia marah-marah buat kita, bukan buat dirinya.”
Begitulah Usman Sidik dikenang. Bukan hanya sebagai bupati. Tapi sebagai suara hati rakyat Halmahera Selatan. Yang pergi dalam pengabdian. Yang wafat dengan sepatu bola masih melekat di kaki.
