Vankasiruta – Di tengah ramai dan bisingnya mesin-mesin tambang yang menggali perut Pulau Obi, menyisakan luka di hutan dan sesak di ruang hidup masyarakat, ada secercah harapan yang tumbuh pelan tapi pasti. Harapan itu datang dari seorang pemuda Desa Laiwui, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara. Dia, Yusran Dais D. L, atau yang akrab disapa Ucan.
Di usia 34 tahun, Ucan menolak pasrah pada keadaan. Ia menolak menjadi sekadar roda kecil dalam industri tambang yang mendominasi pulau. Alih-alih bergabung menjadi buruh tambang seperti banyak pemuda lain, Ucan memilih jalur berbeda. Dia menanam, bukan menggali. Membangun, bukan merusak.
Ucan memulai langkahnya dari titik nol, bahkan bisa dibilang di bawah nol. Modal awalnya hanyalah sebuah printer yang dijual kepada seorang teman seharga Rp1.300.000. Dengan uang itu, ia mulai membangun usahanya dari lahan kecil dan tekad besar.
Anak dari pasangan Dais dan Masni Hi. Mahmud ini memang tidak asing dengan dunia pertanian. Namun, niatnya bukan sekadar bertani. ia ingin membangun sebuah sistem yang mandiri dan berkelanjutan. Pada tahun 2018, ia menggagas pembentukan sebuah kelompok tani lintas desa bernama Bungdes (Gabungan Desa), yang terdiri dari petani-petani di Desa Laiwui, Desa Baru, serta badan usaha UD Faktor milik Ucan sendiri.
Bungdes menjadi cikal bakal pengembangan sektor pertanian konvensional di Obi. Mereka memulai dengan pelatihan, lalu mencoba menanam sayuran seperti brokoli, pakcoy, bunga kol, dan kubis. Namun, semangat awal itu segera diuji. Karena kondisi tanah dan iklim di Obi yang tak cocok untuk tanaman non-lokal, panen pun gagal total.
Belajar dari kegagalan itu, Ucan tidak menyerah. Ia justru membentuk perusahaan berbadan hukum bernama CV. Tani Hidro Mandiri, sebagai wujud keseriusannya menata pertanian modern di kampungnya. Ia mulai mengenalkan metode baru. Pertanian semi-konvensional dan modern, melalui pembangunan greenhouse.
Melalui greenhouse ini, suhu dan kadar air dalam lingkungan tanam bisa direkayasa. Hasilnya? Panen tidak lagi menjadi mimpi. Dari satu green house, Ucan berhasil memanen hingga dua ton sayur pakcoy, selada, dan seledri setiap bulan.
“Kalau dulu gagal karena suhu dan kadar tanah, sekarang itu bisa kami kendalikan. Dan hasilnya luar biasa,” kata Ucan.
Kini, enam hektar lahan pertanian telah dikelola dengan sistem ini.
Pada 2023, terdapat 13 greenhouse yang beroperasi. Satu unit grand house mampu menghasilkan hingga 400 kilogram sayuran per minggu, dengan nilai jual mencapai Rp20 juta per rumah. Total, Ucan bisa mengeluarkan hingga Rp300 juta per bulan untuk membayar hasil panen para petani lokal.
Langkah Ucan tidak berhenti di budidaya sayur-mayur. Ia kini mulai memasuki tahap yang lebih tinggi. Smart Farming Industri.
Di tahap ini, hasil panen tak lagi hanya dijual dalam bentuk mentah. Melainkan diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi, seperti es krim berbahan dasar sayur dan herbal, serta madu herbal dari kasbi (singkong lokal).
“Inovasi madu herbal ini aman untuk penderita diabetes, karena kami menggunakan kasbi sebagai bahan dasar gula cair fruktosa yang rendah glukosa,” ujar Ucan.
Tak hanya itu, CV. Tani Hidro Mandiri juga mulai merambah sektor kelautan dan perikanan. Sisa-sisa tulang ikan diolah menjadi suplemen kalsium, dan teripang (sea cucumber) pun akan dikembangkan sebagai bahan tambahan dalam pembuatan madu herbal.
Fasilitas yang kini berdiri sebagai penopang industri ini meliputi laboratorium pertanian, rumah produksi, serta grand house modern seluas 2000 meter persegi. Semua ini dibangun bukan dengan dana besar dari luar, melainkan dari peluh, keberanian, dan komitmen Ucan serta komunitasnya.
Apa yang dilakukan Ucan bukan hanya soal pertanian atau bisnis. Ia sedang menanamkan filosofi baru bagi masyarakat Obi, bahwa kemakmuran bisa tumbuh tanpa harus menghancurkan hutan, meracuni sungai, atau merampas ruang hidup.
Di tengah gempuran tambang nikel yang berpotensi pada kerusakan ekologis yang menyertainya, langkah Ucan adalah bentuk alternatif yang senyap namun kuat. Ia menyuguhkan alternatif, bahwa ada cara lain untuk hidup, untuk sejahtera, untuk membangun masa depan yang tidak bergantung pada tambang.
Dan semuanya dimulai dari sebuah printer seharga Satu Juta tiga ratus ribu






